Sabtu, 01 Oktober 2016

TEORI DAN PENDEKATAN KOGNITIF

       I.             

                          I.            PENDAHULUAN
Dengan metode dan konsep yang khas, tradisi kognitifmempresentasikan pendekatan konseling yang penting. Dalam beberapa tahun terakhir ini, banyak psikoterapi dan konselor yang dididik dalam metode kognitif tertarik pada perspektif konstruktivisme. Perspektif ini memberikan perhatian khusus kepada bahasa yang digunakan oleh orang-orang untuk menciptakan realitas dimana mereka hidup, dan terapis konstruktivismemempertahankan pendekatan kognitif untuk menghasilkan solusi, bukan hanya sekedar “membedah” masalah.

                       II.            RUMUSAN MASALAH
A.  Apa pengertian kognitif ?
B.  Bagaimana pendekatan teori kognitif ?
C.  Bagaimana teknik dan metode konseling kognitif ?
D.  Apa kelebihan dan kekurangan teori kognitif ?
E.   Bagaimana studi kasus teori kognitif ?

Minggu, 31 Juli 2016

CONTOH LAPORAN BIMBINGAN KONSELING KELOMPOK

Laporan Bimbingan Konseling Kelompok

Konselor         :           Ulin Nuhayati
Anggota          :                      

            K1       Nerika Dina S.
                        K2       Nurul Hanifah
                        K3       Zulfatun’nimah
                        K4       Ririn Dwi A.
                        K5       Nafisatunikmah
                        K6       Verga Puspa Dewi
                        K7       Siti Mutazihul H.
                        K8       Mela Kifti Rizkya
                        K9       Simpatik Nudia P.
                                                                       
Hari/tanggal    : Kamis, 28 April 2016
Tempat            : Ruang i.5
Jenis Layanan  : Konseling Kelompok

TEORI-TEORI DALAM BIMBINGAN DAN KONSELING KARIER (TEORI HOLLAND DAN TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN KRUMBOLTZ)

       I.            PENDAHULUAN
Pada awal munculnya teori bimbingan dan konseling yang berawal dari pelaksanaan vocational guidance (bimbingan jabatan), banyak  tokoh yang berusaha untuk menganalisis vocational guidance dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Beberapa tokoh itu antara lain Bordin, Happock, Donald E. Super, Anne Roe (1943, 1957, 1957, dan 1957), telah memaparkan teori tentang pemilihan karier atau jabatan. Namun, dari beberapa tokoh yang disebut diatas ditemukan pada beberapa teori pilihan pekerjaan yang tampaknya memiliki kekurangan-kekurangan.
Dari beberapa tokoh yang mengembangkan teori pilihan jabatan diatas, muncul John L. Holland dengan teori yang mengajukkan teori dengan pendekatan yang lebih komprehensif dengan memadukkan ilmu-ilmu yang ada. Menurut John Holland (1992), individu yang tertarik pada karier karena adanya kepribadian tertentu dan berbagai variable yang merupakan latar belakang mereka.
Pilihan karier merupakan ekspresi, atau perpanjangan kepribadian ke dalam dunia kerja, di ikuti oleh identifikasi berikutnya dengan stereotip pekerjaan tertentu.Sebuah perbandingan diri dengan persepsi pendudukan dan penerimaan atau penolakan selanjutnya adalah penentu utama dalam pilihan karier. Kesesuaian pandangan seseorang tentang diri dengan prefensi kerja menetapkan apa Holland sebut sebagai gaya pribadi modal.
Pusat untuk teori Holland adalah konsep bahwa seseorang memilih karier untuk memuaskan modal orientasi pribadi yang disukai seseorang. Jika individu telah mengembangkan orientasi dominan yang kuat, kemungkinan kepuasan dalam lingkungan kerja akan sesuai.


    II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana teori pilihan jabatan John Holland?
B.     Bagaiman teori pengambilan keputusan karier Krumboltz?



Senin, 30 Mei 2016

AJARAN TAREKAT DALAM SASTRA JAWA

AJARAN TAREKAT DALAM SASTRA JAWA


Tarekat yaitu artinya jalan, petunjuk dalam melakukan sesuatu ibadat sesuai dengan ajaran yang di tentukan dan di contohkan oleh Nabi dan di kerjakan oleh sahabat dan tabi’in, turun menurun ampi kepada guru-guru, sambung menyambung dan rantai-berantai. Adapun tujuan tarekat yaitu, ilmu pengetahuan sufi dan tasawwuf, bahwa mereka membagikan ilmu dan amal itu dalam empat tingkat, sesuai dengan fitrah dan perkembangan keyakinan manusia, yaitu syari’at, tarekat, hakikat dan ma’rifat. Syeikh najmuddin Al-kubra, dalam kitab “ Jami’ul auliya” (mesir, 1331 M), mengatakan syariat itu merupakan uraian, tarekat itu merupakan pelaksanaan, hakekat itu merupakan keadaan, dan ma’rifat merupakan tujuan pokok, yakni pengenalan Tuhan yang sebenar-benarnya. Oleh karena itu orang tidak dapat berhenti pada syari’at saja, mengambil tarekat atau hakekat saja. Tarekat itu lautan, hakekat itu mutiara, orang tidak dapat mencapai mutiara itu dengan tidak melalui kapal dan laut.[1]
Tidak di ragukan bahwa islam masuk ke nusantara melalui sentuhan taswuf. Ada banyak sumber sejarah yang menyatakan bahwa islamisasi di nusantara yang di lakukan oleh para da’I sufi yang memang memiliki kemampuan berdakwah  dengan model tasawuf yang menyejukan dan kontekstual.
Pada abad ke-16 dan 17, tarekat telah menjadi bagian penting di dalam kehidupan  masyarakat islam nusantara. Tarekat yang berkembang di abadi tersebut antara lain adalah tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Syattariyah, Naqsyabandiyah, samaniyah dan alawiyah. Beberapa tarekat lain, seperti Tijaniyah baru berkembang pada abad ke-20. Tarekat Qadariyah wa Naqsyabandiyah berkembang sekitar tahun 1850-an berkat tokoh tasawuf asal Kalimantan yang bermukin da makkah, yaitu Syaikh Ahmad Khatib Sambasi. Beliau merupakan tokoh yang berhasil memadukan antara tarekat Qadariyah dan Naqsyabandiyah.
Di Indonesia, sebagaimana kajian Van Bruinessen maka tarekat yang paling banyak pengaruhnya dalah tarekat qadiriyah wa naqsyabandiyah. Tarekat ini memiliki penganut hampir di seluruh nusantara, pengaruh terbesar tentunya di Jawa.[2]
Tarekat Naqsyabandiyah di jawa:      

MONITORING DAN EVALUASI DALAM PELAKSANAAN PENYULUHAN AGAMA

MONITORING DAN EVALUASI DALAM PELAKSANAAN PENYULUHAN AGAMA

I.                   RUMUSAN MASALAH

A.     Apa pengertian Monitoring?
B.     Apa saja fungsi Monitoring?
C.     Bagaimana Monitoring dalam pelaksanaan Penyuluhan Agama?
D.     Apa pengertian Evaluasi?
E.      Apa saja fungsi Evaluasi?
F.      Bagaimana Evaluasi dalam pelaksanaan Penyuluhan Agama?

KONSEP TUHAN DAN MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT

KONSEP TUHAN DAN MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFATvvKONSEP TUHAN DAN MANUSIA DALAM PANDANGAN FILSAFAT

I.                   PENDAHULUAN
Allah SWT merupakan sang pencipta manusia dan alam semesta yang disebut dengan khalik (sang pencipta) namun sering disebut juga dengan Al-Rabb, Rabb al-Alamin, Rabb kulli syai’. Berdasarkan kata dasar dari Rabb yaitu memperbaiki, mengurus, mengatur dan juga mendidik. Rabb biasa diterjemahkan dengan Tuhan yang mengandung pengertian sebagai Tarbiyah (yang menumbuhkembangkan sesuatu secara bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna), juga sebagai murabbi (yang mendidik). Dengan demikian sebagai al-rabb, atau rabb al-alamin, Allah adalah yang mengurus, mengatur, memperbaiki proses penciptaan alam semesta. Manusia mempunyai dua komponen yaitu jasmani dan rohani. Dengan kelengkapan fisik atau jasmani manusia dapat melaksanakan tugas-tugasnya yang memerlukan dukungan fisik dan dengan kelengkapan rohaninya ia dapat melaksanakan tugas-tugas yang memerlukan dukungan mental.


II.                RUMUSAN MASALAH
A.      Apa pengertian filsafat?
B.      Bagaimana Filsafat ketuhanan dan konsep Tuhan dalam pandangan filsafat?
C.      Bagaimana konsep manusia dalam pandangan filsafat?


HADITS PERNIKAHAN

HADITS PERNIKAHAN

I.         PENDAHULUAN
Pernikahan merupakan sunah Nabi yang sangat dianjurkan. Rumah tangga yang berpegang pada syari’at Allah swt. adalah fondasi yang utama.
Pernikahan adalah suatu peristiwa yang fitrah, dan sarana paling agung dalam memelihara keturunan dan memperkuat antar hubungan, antar sesama manusia yang menjadi sebab terjaminnya ketenangan cinta dan kasih sayang.
Dibalik anjuran Nabi kepada umatnya untuk menikah, pastilah ada hikmah yang bisa diambil. Diantaranya yaitu agar bisa menghalangi mata dari melihat hal-hal yang tidak di ijinkan syara’ dan menjaga kehormatan diri dari jatuh pada kerusakan seksual.
Islam sangat memberikan perhatian terhadap pembentukan keluarga hingga tercapai sakinah, mawaddah, dan warahmah dalam pernikahan. Dalam makalah ini, pemakalah akan membahas tentang pernikahan baik dari segi pengertian, hokum, rukun, syarat, dan lain-lainnya berdasarkan hadits Nabi.
II.      RUMUSAN MASALAH
1.         Apa yang dimaksud dengan Pernikahan?
2.         Bagaimana Hadits Tentang Nikah Sebagai Sunnah Nabi?
3.         Bagaimana Hadits Tentang Anjuran untuk Nikah?
4.         Bagaimana Hadits Tentang  Cara Memilih Jodoh?